lingsir wengi…
sepi durung bisa lena
kagodha nang pewayang kang ngerindu ati
kawitane..mung sembrana jur kulina
ra ngira…yen bakal nuwuhke tresna…


14 Agustus 2000…..
“Man, nyanyia sembarang ndang,” teriakmu.
Herman pun langsung mendongak memandangmu yang tengah berkutat dengan tali yang melilit tubuhnya. Berlahan tapi pasti, kau pun beranjak naik, mendekati titik tertinggi berupa pucuk tiga batang bambu yang disatukan membentuk sebuah piramid.
Tak berapa lama, selantun lagu keluar dari mulut Herman. Dengan senyumnya yang sok jail, ia tetap mengawasimu, mengiringi perjuanganmu mendekati puncak piramid. Dan di samping Herman, aku diam berdoa, semoga kau bisa dengan cepat meyelesaikannya dan bisa turun ke bawah dengan segera, tanpa suatu apapun mencelakaimu.
Lagu itu......mengiringimu sampai di puncak tertinggi. Dengan mata bersinar, kau menunduk ke bawah. Aku tahu...semua kau lakukan untuk perayaan hari itu. Tapi aku juga tahu, sebagian dari usahamu adalah untukku. Untuk membuktikan bahwa kau bisa. Kau punya semangat baja meski orang tuamu seakan telah membuangmu. Dan kau mampu berdiri di kakimu sendiri. Dan..... aku pun tersenyum untukmu.
Dan....jika kudengar lagu ini...aku ingat dirimu.......
Kau yang kuanggap ’mas’ku
Kau yang jadi dewa pelindungku dalam kegiatan ektra itu
Kau yang selalu ada saat aku gembira maupun kala aku sedih
Kau yang sering ’tidak sengaja’ jadi teman seperjalanku
Kau yang pertama menunjukkan kota reog ke aku
Kau yang mengenalkanku akan arti hidup
Kau juga yang membuatku berjanji ’aneh’
Kau yang membuat aku ’tak disapa’ berminggu-minggu oleh adikmu :)
Kau yang menentangku ketika aku jadian dengan'nya' (awet lho..)
Kau yang menghilang setelah itu
Kau...yang kini telah berkeluarga dan mempunyai seorang putera
Satu pertanyaanku untukmu
Apakah kau ingat aku?
Percayalah...kau tetap teman, kakak teristimewa, untukku.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to " "