Penyeberangan Surabaya – Madura

Surabaya dan Madura. Terpisah oleh Selat Madura sepanjang kurang lebih 5,4 km. Namun, tak berarti, kita akan mengalami kesulitan untuk berkunjung ke Madura. Cukup dengan datang ke Pelabuhan Ujung (Surabaya) dan membayar tiket ferry sebesar 3.200 rupiah per orang (jika dari Madura, cukup 3000 rupiah), kita dapat dengan mudah menyeberang ke Pulau Garam itu. Kendaraan pun dapat dibawa serta menyeberang dengan ferry. Tentu saja, ada harga yang perlu dibayar. Untuk sepeda motor, cukup mengelurkan uang 1.500 rupiah. Tentu saja tak sama besar dengan yang harus dikeluarkan bagi bis dan mobil yang turut menyeberang. (maaf..lupa tarifnya)
Kitapun tak perlu berlama-lama menunggu ferry berangkat. Hanya butuh waktu 15 - 20 menit untuk menunggu ferry penuh. Jika hari Sabtu atau Minggu atau hari libur lainnya, masa penantian ini akan lebih pendek, hanya sekitar 10 – 15 menit. Bosan menunggu?! Jangan bayangkan rasa bosan itu muncul. Dengan beragamnya pemandangan yang dapat dilihat dari atas kapal, sudah pasti kita tak akan bosan. Di sisi sebelah kiri kapal, dapat kita lihat bangunan yang sangat besar panjang, dan tinggi milik PT. PAL. Di situlah anak negeri ini memproduksi kapal. Di sisi kanan, kita akan disuguhi hiruk pikuk manusia yang hendak menyeberang maupun yang baru datang dengan kapal dari Madura.
Di atas kapal pun, suasana tak kalah ramai. Para pedagang hilir mudik menjajakan dagangannya. Tak hanya makanan dan minuman, kopiah sampai sandal jepit pun bisa kita beli dari mereka. Cara mereka membawa barang dagangan bisa jadi merupakan hal unik bagi yang tidak biasa melihatnya. Mereka ’menyunggi’ (meletakkan barang di atas kepala) barang dagangannya tanpa di pegang tangan. Dan anehnya, barang-barang itu seperti lengket sehingga tidak jatuh dari atas kepala.
Pemandangan sepanjang penyebrangan pun tak kalah menarik. Kita dapat menilhat beberapa buah kapal yang tampak antri menunggu giliran masuk ke Pelabuhan Ujung. Setelah beberapa menit perjalanan, di sebelah kanan dapat kita lihat Pusat Komando Angkatan Laut III dengan patung Jalesveva Jayamahe yang berdiri tegak memandang ke arah laut. Selain itu, tampak tiga kapal perang tengah bersandar di dekat patung tersebut.
Memasuki Pelabuhan Kamal, kapal ferry tak bisa langsung membuang jangkar tapi masih harus antri seperti di Dermaga Ujung. Begitu menjejakkan kaki di Pulau Madura, kita akan disambut gapura selamat datang di Pulau Madura. Telinga kitapun akan menyantap dialog-dialog asli Pulau Madura. Meskipun udara memang sedikit lebih panas daripada Surabaya, Madura memang menjanjikan untuk dijelajahi lebih lanjut. Sayang, waktu itu, aku nyebrang tanpa kendaraan. Jadi begitu tiba di Madura, beli makan bentar, jalan2 di pasar deket pelabuhan, trus beli tiket lagi dan menyeberang lagi ke Surabaya. hehehehhehe.........

Surabaya dan Madura. Terpisah oleh Selat Madura sepanjang kurang lebih 5,4 km. Namun, tak berarti, kita akan mengalami kesulitan untuk berkunjung ke Madura. Cukup dengan datang ke Pelabuhan Ujung (Surabaya) dan membayar tiket ferry sebesar 3.200 rupiah per orang (jika dari Madura, cukup 3000 rupiah), kita dapat dengan mudah menyeberang ke Pulau Garam itu. Kendaraan pun dapat dibawa serta menyeberang dengan ferry. Tentu saja, ada harga yang perlu dibayar. Untuk sepeda motor, cukup mengelurkan uang 1.500 rupiah. Tentu saja tak sama besar dengan yang harus dikeluarkan bagi bis dan mobil yang turut menyeberang. (maaf..lupa tarifnya)
Kitapun tak perlu berlama-lama menunggu ferry berangkat. Hanya butuh waktu 15 - 20 menit untuk menunggu ferry penuh. Jika hari Sabtu atau Minggu atau hari libur lainnya, masa penantian ini akan lebih pendek, hanya sekitar 10 – 15 menit. Bosan menunggu?! Jangan bayangkan rasa bosan itu muncul. Dengan beragamnya pemandangan yang dapat dilihat dari atas kapal, sudah pasti kita tak akan bosan. Di sisi sebelah kiri kapal, dapat kita lihat bangunan yang sangat besar panjang, dan tinggi milik PT. PAL. Di situlah anak negeri ini memproduksi kapal. Di sisi kanan, kita akan disuguhi hiruk pikuk manusia yang hendak menyeberang maupun yang baru datang dengan kapal dari Madura.
Di atas kapal pun, suasana tak kalah ramai. Para pedagang hilir mudik menjajakan dagangannya. Tak hanya makanan dan minuman, kopiah sampai sandal jepit pun bisa kita beli dari mereka. Cara mereka membawa barang dagangan bisa jadi merupakan hal unik bagi yang tidak biasa melihatnya. Mereka ’menyunggi’ (meletakkan barang di atas kepala) barang dagangannya tanpa di pegang tangan. Dan anehnya, barang-barang itu seperti lengket sehingga tidak jatuh dari atas kepala.
Pemandangan sepanjang penyebrangan pun tak kalah menarik. Kita dapat menilhat beberapa buah kapal yang tampak antri menunggu giliran masuk ke Pelabuhan Ujung. Setelah beberapa menit perjalanan, di sebelah kanan dapat kita lihat Pusat Komando Angkatan Laut III dengan patung Jalesveva Jayamahe yang berdiri tegak memandang ke arah laut. Selain itu, tampak tiga kapal perang tengah bersandar di dekat patung tersebut.
Memasuki Pelabuhan Kamal, kapal ferry tak bisa langsung membuang jangkar tapi masih harus antri seperti di Dermaga Ujung. Begitu menjejakkan kaki di Pulau Madura, kita akan disambut gapura selamat datang di Pulau Madura. Telinga kitapun akan menyantap dialog-dialog asli Pulau Madura. Meskipun udara memang sedikit lebih panas daripada Surabaya, Madura memang menjanjikan untuk dijelajahi lebih lanjut. Sayang, waktu itu, aku nyebrang tanpa kendaraan. Jadi begitu tiba di Madura, beli makan bentar, jalan2 di pasar deket pelabuhan, trus beli tiket lagi dan menyeberang lagi ke Surabaya. hehehehhehe.........







0 Response to " "
Post a Comment